NASIHAT PERNIKAHAN

Marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā, yang pada hari ini telah mengumpulkan kita dalam suasana yang penuh keberkahan, yaitu akad pernikahan. Semoga Allah Ta’ala menjadikan pertemuan ini sebagai pertemuan yang diridhai-Nya.

Tidak diragukan lagi bahwa pernikahan merupakan bagian dari sunnah Nabi Muhammad ﷺ dan sunnah para Rasul sebelum beliau. Pernikahan bukan sekadar tradisi sosial atau tuntutan budaya, namun ia adalah ibadah yang disyariatkan oleh Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā, serta merupakan bagian dari fitrah manusia yang Allah Ta’ala ciptakan.

Allah Ta‘ālā berfirman:

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِنْ قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ أَزْوَاجًا وَذُرِّيَّةً

“Dan sungguh, Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum engkau (Muhammad), dan Kami berikan kepada mereka istri-istri dan keturunan.” (QS. Ar-Ra‘d: 38)

Ayat ini dengan jelas menunjukkan bahwa memiliki pasangan hidup dan membangun rumah tangga adalah fitrah para Rasul dan fitrah manusia secara umum.

Rasulullah ﷺ bersabda tentang tiga golongan yang berhak mendapatkan pertolongan Allah:

ثَلَاثَةٌ حَقٌّ عَلَى اللَّهِ عَوْنُهُمْ… وَالنَّاكِحُ الَّذِي يُرِيدُ الْعَفَافَ

“Ada tiga golongan yang Allah pasti tolong… di antaranya adalah orang yang menikah dengan tujuan menjaga kesucian dirinya.” HR. Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah dan Ahmad

Ini menjadi dalil bahwa pernikahan yang diniatkan atau orientasinya untuk ibadah, menjaga kehormatan, dan menjauhi maksiat akan mendapatkan pertolongan langsung dari Allah Ta’ala.

Oleh karena itu, suami dan istri harus memiliki visi yang sama, yaitu menikah karena Allah Ta’ala dan untuk Allah Ta’ala. Ketika tujuan pernikahan adalah akhirat, maka setiap peran dalam rumah tangga akan bernilai ibadah: bekerja, mengurus rumah, mendidik anak, bahkan bersabar atas kekurangan pasangan.

Inilah sebabnya Rasulullah ﷺ mendoakan pasangan yang menikah dengan doa penuh makna:

بَارَكَ اللَّهُ لَكَ, وَبَارَكَ عَلَيْكَ, وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي خَيْرٍ

“Semoga Allah memberkahimu, memberkahi atasmu, dan mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan.”

Keberkahan bukan sekadar banyaknya harta, tetapi kebaikan yang menetap, tenang, dan membawa pada ketaatan. Rumah tangga yang diberkahi akan mampu bertahan di saat lapang maupun sempit, dalam suka maupun duka.

Ketika orientasi pernikahan adalah akhirat, maka suami dan istri akan berjalan di atas petunjuk Allah Ta’ala dan sunnah Nabi ﷺ. Mereka akan menjadikan Al-Qur’an dan sunnah sebagai pedoman dalam menyelesaikan masalah, mengatur peran, serta mendidik anak-anak.

Untuk mewujudkan orientasi akhirat dalam pernikahan, terdapat dua nasihat penting yang harus benar-benar diperhatikan:

  1. Nasihat bagi Suami: Menuntut Ilmu Agama

Suami adalah pemimpin rumah tangga. Kepemimpinan bukan sekadar memberi nafkah, tetapi mengarahkan keluarga menuju ketaatan kepada Allah Ta’ala. Dan tidak mungkin seseorang bisa memimpin dengan benar tanpa ilmu.

Dengan ilmu agama, seorang suami akan mampu:

  1. membimbing istri dan anak-anaknya di atas tauhid dan sunnah, mengetahui hak dan kewajibannya sebagai suami,
  2. bersikap adil, bijaksana, dan penuh tanggung jawab,
  3. menjaga keluarganya dari syubhat dan maksiat.

Allah Ta‘ālā berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” QS. At-Tahrim: 6

Ayat ini adalah amanah besar bagi setiap suami. Bagaimana mungkin seorang suami menjaga keluarganya dari neraka jika ia tidak mengetahui jalan menuju surga?

Oleh karena itu, menuntut ilmu agama harus menjadi prioritas. Ajak istri untuk belajar bersama, menghadiri majelis ilmu, membaca Al-Qur’an, dan menghidupkan sunnah di dalam rumah. Rumah tangga yang dibangun di atas ilmu akan kokoh, tenang, dan penuh keberkahan.

  1. Nasihat bagi Istri: Taat kepada Suami dalam Kebaikan

Ketaatan istri kepada suami adalah ibadah yang sangat besar nilainya. Selama perintah suami tidak mengandung maksiat kepada Allah Ta’ala, maka menaati suami adalah bentuk ketaatan kepada Allah Ta’ala. Rasulullah ﷺ bersabda:

 إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا, وَصَامَتْ شَهْرَهَا, وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا, وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا, قِيلَ لَهَا ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ

“Jika seorang wanita menunaikan shalat lima waktunya, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kehormatannya, dan menaati suaminya, maka akan dikatakan kepadanya: ‘Masuklah ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau kehendaki.’” HR. Ahmad dan Ibnu Hibban, shahih

Betapa luasnya rahmat Allah Ta’ala bagi seorang istri. Ketaatan kepada suami yang memimpin dengan ilmu dan kebaikan adalah jalan yang mudah menuju surga. Inilah kehormatan besar bagi wanita dalam Islam.

Akhirnya, kami berdoa semoga Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā menjadikan pernikahan ini sebagai pernikahan yang sakinah, mawaddah, wa rahmah, dipenuhi keberkahan, dilindungi dari fitnah, dan dikumpulkan kembali di surga-Nya kelak.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ, وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.

Akhukum: Abu Idris Syahel.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *