Pintu Masuk Dalam Mendidik Anak (bag. 2)

Pada bagian pertama kita sudah masuk kedalam 2 pintu dalam mendidik anak, yaitu memahami bahwa anak adalah nikmat dan karunia dari Allah Ta’ala dan menyadari bahwa anak adalah perhiasan dan ujian untuk kedua orang tua.

  1. Berambisi untuk Memperoleh anak yang shalih

    Sering kali orang tua lupa saat menunggu buah hati hadir dalam kehidupannya berharap untuk memperoleh keturunan yang shalih, perhatiannya selalu terfokus pada gender anak yang dinantikan, kesehatan jabang bayi, dan lain sebagainya. Hal ini adalah hal yang wajar secara naluri, karena anak adalah perhiasan sebagaimana yang dijelaskan sebelumnya, hanya saja kita perlu meneladani para nabi, dimana ambisi dan cita-cita tertinggi mereka adalah mendapatkan anak yang shalih, bukan semata-mata tujuan dunia.

    Kita lihat do’a dari Nabi Zakariya ‘alaihissalam, Allah Ta’ala berfirman:

    قَالَ رَبِّ هَبْ لِى مِن لَّدُنكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۖ إِنَّكَ سَمِيعُ ٱلدُّعَآءِ

    “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa”. QS. Ali Imran: 38

    Kemudian doa orang-orang shalih yang Allah Ta’ala kabarkan dalam firman-Nya,

    رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَٰجِنَا وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَٱجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

    “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” QS. Al-Furqan: 74

    Berkata As-Sa’adi rahimahullah: Apabila kita membaca keadaan dan sifat mereka (orang-orang shalih), kita akan mengetahui dari tekat dan kemuliaan kedudukan mereka, bahwa tidaklah menyejukkan pandangan mereka kecuali sampai mereka mendapati keturunannya dalam kondisi taat kepada Rabb mereka, menjadi seorang berilmu serta beramal.
  2. Mengetahui manfaat dari anak yang shalih

    Orang tua yang tahu bahwa hasil dari usahanya tersebut akan memberikan dampak yang baik dan besar untuk dirinya, maka dia akan bersungguh-sungguh untuk menggapai hasil tersebut. Maka dari itu di antara pendorong kita dalam mendidik adalah dengan cara mengetahui sesuatu yang kita peroleh dikemudian hari.

    Manfaat yang paling besar adalah mendapatkan istigfar dari anak kita setelah terputus semua amal kita, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

    “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang diambil manfaatnya, atau do’a anak yang shalih.” (HR. Muslim no. 1631)

    Dalam hadist yang lain beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    إن الرجل لترفع درجته في الجنة فيقول ؛ أنى هذا ؟ , فيقال : باستغفار ولدك لك .

    “Sesungguhnya seseorang pasti diangkat derajatnya disurga, lalu ia berkata keheranan ; Kenapa (derajat saya diangkat)?, maka dikatakan kepadanya: “Dengan sebab istighfarnya anakmu”. HR. Ahmad dan Ibnu Majah

Bersambung…..
Baarakallahu fiikum

Sumber: Tarbiyah Al-Aulad Fii Dhau’ Al-Kitab Wa As-Sunnah karya ‘Abdussalam bin ‘Abdullah As-Sulaiman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *