Selasa, 22 September 2026
Ustadz Abdullah Zaen
Allah menciptakan manusia dengan tujuan beribadah kepada Nya.
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Adz-Dzāriyāt [51]: 56)
Dari sisi manusia, manusia diciptakan untuk beribadah. Sedangkan dari sisi Allah, Allah menciptakan manusia untuk melimpahkan rahmat-Nya kepada manusia. Surat hud
Aturan Allah merupakan bentuk kasih sayang Allah, mengetahui bahwa aturan Allah itu merupakan kasih sayang Allah adalah supaya kita menjalankan perintah dan larangan Allah dengan senang hati.
Alasan aturan Allah merupakan tanda kasih sayang Allah kepada manusia:
1. Allah adalah Al ghaniy maha kaya
Dalam surat fathir ayat 15
يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ
“Wahai manusia! Kamulah yang memerlukan Allah; dan Allah, Dialah Yang Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu), Maha Terpuji.”
Dalam ayat ini menjelaskan kita yang membutuhkan Allah, sedangkan Allah tidak membutuhkan manusia.
Walaupun kita tidak beribadah kepada Allah itu tidaklah merugikan Allah, melainkan merugikan diri kita sendiri.
Jadi ketika Allah membuat aturan itu tidak ada tendensi untuk kepentingan Allah. Melainkan karena Allah sayang kepada kita.
إِنْ أَحْسَنتُمْ أَحْسَنتُمْ لِأَنفُسِكُمْ ۖ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا ۚ
“Jika kamu berbuat baik, (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan itu) untuk dirimu sendiri.”
QS. Al-Isrā’ [17]: 7
2. Allah Al alim ( yang maha mengetahui )
Yang mengetahui segala sesuatu,
أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ
“Apakah (pantas) Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui? Dan Dia Mahahalus, Maha Mengetahui.”
Al Mulk: 14
Dialah Allah yang mengetahui apa yang baik buat kita dan tidak baik buat kita, Dialah Allah yang mengetahui apa yang membahayakan buat kita dan tidak, Dialah Allah yang mengetahui apa yang membuat kita bahagia dan tidak.
Thaha : 124 – 126
وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ () قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَىٰ وَقَدْ كُنتُ بَصِيرًا () قَالَ كَذَٰلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا ۖ وَكَذَٰلِكَ الْيَوْمَ تُنسَىٰ ().
“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.”
“Dia berkata, ‘Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunku dalam keadaan buta, padahal dahulu aku dapat melihat?’
“Dia berfirman, ‘Demikianlah, dahulu telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, lalu kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamu dilupakan.”
3. Allah Al hakim (yang maha bijaksana )
Allah maha bijaksana, syariat yang dibebankan oleh hamba Nya tidak lah keluar dari maha bijaksana nya Allah.
✓ Beban tersebut tidak melebihi kemampuan manusia.
Al Baqarah 286
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.
Dalam setiap ibadah ada dispensasi atau keringanan dalam menjalankan nya, jika kita dalam shalat tidak mampu berdiri, maka duduk, jika tidak mampu duduk maka berbaring.
✓ Beban tersebut ada tujuan mulia dibaliknya.
Contoh saat kita ingin melaksanakan shalat subuh, kita harus bangun pagi mungkin terasa berat bagi kita, tapi jika kita biasakan diri kita maka beban yang berat itu akan menjadi nikmat akan ringan karena sudah sering kita jalani.